Baru saja saya menutup sebuah
window di layar monitor setelah beberapa waktu tertegun menatapnya. Ada barisan kata yang saya baca melalui sebuah
blog teman. Mengenai
pernikahan beda agama. 3 kata yang begitu mudah ditulis, disebut, namun begitu sulit dihadapi dalam dunia nyata. Kenyataannya hal ini tidak terlalu sulit saya terima secara rasional, tapi tak terjadi demikian dengan papa, mama, dan beberapa petinggi dalam keluarga saya. Entah saya harus katakan mereka kolot atau memang saya yang harus mengerti bahwa inilah yang dinamakan indahnya keragaman perbedaan pendapat di tengah banyaknya kepala yang memikirkan hal yang sama. Ah, tetap saja menurut saya ini namanya ketidakadilan. Kalau saya berusaha mengerti pola pikir mereka sebagai orang tua, berusaha menempatkan diri saya memandang kekhawatiran dan ketakutan mereka terhadap banyak hal yang mereka anggap negatif yang akan terjadi akibat pernikahan macam ini, lalu mengapa mereka tidak mencoba menempatkan mata mereka dan membiarkan saya menuntun serta menjelaskan kepada mereka rute jalan di mana otak saya mengalir. Bukankah ini cara yang cukup mudah untuk bermusyawarah?
Sudah banyak kisah mengenai pernikahan macam ini di dunia. Saya yakin itu. Maka muncullah banyak karya atasnya, banyak lagu, bahkan skenario film layar lebar. Mereka bilang ‘Tuhan memang satu, kita yang tak sama.’ THAT’S TOTALLY RIGHT. Kita hanya berbeda dalam cara pandang kita mengenai Tuhan dan dunia, mengenai cara kita mengucap syukur pada-Nya. Buat apa dipermasalahkan jika memang Tuhan yang kita sembah dan kita junjung adalah Tuhan yang sama? Kita memanggil-Nya dalam berbagai bahasa, dalam berbagai cara, dalam berbagai pujian, namun apakah itu akan jadi masalah di mata-Nya? Saya rasa tidak. Yang membuat kita berbeda di hadapan-Nya hanyalah tingkah dan perbuatan kita, amal dan ibadah kita. Dan yang saya tahu, tidak ada satu pun agama legal, terutama di Indonesia, yang tidak mengajarkan kasih dalam ajarannya.
Tidak ada ajaran agama yang salah ataupun benar. Ini hanya tentang cara pandang. Dengan melegalkan beberapa ajaran yang berbeda, berarti negara mengijinkan kita untuk bertumbuh dalam perbedaan itu. Semboyan saja sudah ‘Bhinneka Tunggal Ika’, itu bukan sekedar semboyan tanpa ada filosofi dan harapan untuk adanya implementasi toh?
Kenyataan saat ini adalah saya dan dia sudah menjalani hubungan yang penuh konfrontasi ini selama 6,5 tahun. Dimulai sejak kami pertama berkenalan di sebuah bangunan institusi pendidikan yang menjulang tinggi dan gagah perkasa di bumi sangkuriang sana. Tak sulit dan tak butuh waktu panjang untuk membuat kami sama-sama menyadari bahwa ada daya tarik menarik yang luar biasa antara kami berdua. Yang sulit saat itu adalah akhirnya memutuskan bahwa daya yang luar biasa ini harus disahkan dalam sebuah status. Kami sadar bahwa ini akan menjadi perjuangan panjang karena kami mengetahui dengan gamblang kondisi keluarga dan kenyataan bahwa tidak banyak orang punya pikiran terbukan terhadap perbedaan kami. Sulit, berliku, dan penuh peluh, tapi tetap membahagiakan. Begitu mengharukan saat saya akhirnya sadar bahwa setiap gerak perjuangan kami bersama tidak sama sekali membuat langkah kami bergetar. Justru semua itu menjadi kekuatan yang mengikat kami semakin erat, sampai dengan lebih dari 2000 hari.
Keyakinan bukan untuk dijadikan suatu hal yang fanatik, ma..pa.. Bisakah kalian sedikit mengerti? Takutkah kalian melihat anak kalian mungkin tidak lagi memandang Tuhan dengan cara yang sama? Saya juga tidak akan berpikir sepicik itu. Keyakinan merupakan suatu hal yang mendasar untuk saya, meski memang saya bukan termasuk orang yang sebegitu solehahnya dan paham betul seluk beluk agama. Tapi buat saya, keyakinan sama halnya dengan pasangan hidup. Harus menemukan yang
sreg, bukan semata-mata karena turunan keluarga dan orang tua. Jadi, saya tidak akan seenaknya menggadaikan keyakinan saya atas nama cinta. Begitu pula yang akan saya lakukan dengan dia. Saya tidak akan meminta dia untuk beralih menjalani keyakinan saya, kecuali jika dia sendiri yang berkeinginan untuk melakukan hal itu. Itu pun dengan satu syarat. Dia harus benar-benar mempelajarinya secara seksama. Jangan sampai dia merasa salah pilih keyakinan. Duh, bahaya!
Saya dan dia memang belum tahu sampai kapan harus menjalani keadaan seperti ini. Cuma bisa sabar, dan berdoa. Berdoa dengan cara kami masing-masing, menyampaikan maksud yang sama juga kepada Tuhan yang sama dengan cara kami masing-masing.
Suatu hari pasti ada jalan. Suatu hari optimisme dan kegigihan ini pasti akan membuahkan hasil.