Pages

Sunday, January 13, 2013

Tolong. Cepat. Kembali. Saya. Sekarat.

Tuesday, October 23, 2012

Jadi keinget, dulu ada temen yang pernah bilang gini
Jadi extrovert itu ga gampang, tapi bisa dipelajarin perlahan. Nah, kalo jadi introvert itu juga ga gampang, tapi ga bisa dipelajarin. Dia bisa muncul dari pengalaman sakit hati atau luka yang dibiarkan.
-malam malam random-

Sunday, October 14, 2012

Insan Akademis

Bapak A : Ratih, dulu kuliah di mana?
Gw          : Di ITB, Pak..
Bapak A : Wah, pinter dong ya.. Tau ga dulu HP itu pertama kali ditemuin di mana sih? Jaman sekarang udah jadi kayak kacang. Apalagi kalo Lebaran, toko HP rame diserbu sama yang mau beli BB. Sekarang gadget kaya gitu kayaknya udah jadi kebutuhan utama.

(tak lama kemudian)

Bapak A : Ini jalanan bikin susah deh, rusaknya ampun-ampun. Kan jadi bikin macet. Ratih tau gak kenapa gak ada yang mau benerin? Katanya sih pemerintah daerah Bekasi sama Bogor sama-sama gak ngakuin kalo ini termasuk di daerahnya. Jadi ya gak ada yang mau benerin. Wong bukan wilayah kekuasaannya, ngapain harus ngeluarin duit daerahnya. Padahal kan duitnya bukan punya dia sendiri juga ya. Aneh-aneh emang pemimpin jaman sekarang tuh.
                  Coba proyek  pembangunan perumahan sama jalanan ini tuh dulu diurusin sama orang-orang pinter kayak anak-anak dari ITB. Ada kan yang belajarnya ngurusin beginian? Apa namanya?
Gw          : Iya, Pak. Di jurusan Teknik Sipil.
Bapak A : Nah, iya..itu…
                  Coba mereka-mereka itu yang dulu disuruh bikin, pasti bakal lebih bagus hasilnya. Ini sebentar dibenerin udah rusak lagi. Abisnya yang lewat truk-truk gede macem yang di depan itu. Jalanannya abis dilindes trus muatan gede kayak gitu. Ancur langsung.
                  Udah gitu saluran airnya ga ada. Nanti pas musim ujan, air menggenang semua di jalanan. Ancur lagi jalanannya.
                  Kok yang kaya gitu itu ga bisa dipikirin sih sama yang buat. Ujung-ujungnya jalanan jadi dicor sana sini. Itu juga kalo ada yang sadar da nada duitnya.Saya sebenernya gak suka deh sama jalanan yang dicor. Gak bagus diliatnya. Kesannya kokoh, tapi gak sedep dipandang.

(dan lagi…)

Bapak A : Ratih, anak ITB yang jadi pejabat siapa aja sih? Mereka pernah kena kasus korupsi juga gak?     Atau sebenernya korupsi tapi gak ketauan?
Gw          : *nah lho*

Segelintir percakapan yang pasti gak jarang buat anak ITB (I guess). Karena selama ini yang gw temui, ketika seseorang tahu bahwa Anda adalah seorang mahasiswa atau alumni kampus ini, Anda 90% dipastikan akan dicap sebagai anak pintar (let’s say ‘AMEN’).
Dan suatu hari, setelah beberapa percakapan yang menyerempet ke-ITB-an gw, percakapan dengan si Bapak A ini sedikit menyentil pikiran gw. Tiba-tiba terngiang lagu ‘Kampusku Rumahku’ yang dulu sering dinyanyiin pas jaman-jamannya orientasi mahasiswa.

Kampusku rumahku
Kampusku negeriku
Kampusku kebebasanku
Kampusku wahana kami

Di sana kami dibina
Menjadi manusia dewasa
Namun kini apa yang terjadi
Ditindas semena-mena

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta-cinta Indonesia

Kaumku mahasiswa
Di mana kini kau berada
Belenggu di sisi kirimu
Penjara di sisi kananmu

Tiba-tiba lagu itu berputar berulang-ulang. Gw tertegun saat memaknai kata-kata berbalut efek cetak tebal di atas. Seperti kata lagu itu, banyak orang yang menanti tanganmu, tindakan konkret manusia yang beruntung mengenyam pendidikan baik di negeri yang kaya ini. Bukan hanya membesarkan perut sendiri dan menentramkan kehidupan pribadi.
Mana sumbangsihmu untuk bangsa?
Akan jadi sia-sia rasanya komandan lapangan meneriakkan “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa” saat menginjakkan kaki pertama kali di ranah kampus. Lingkungan asri, dambaan banyak generasi.

Gw jadi inget suatu hari di mana dokumen Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan Keluarga Mahasiswa ITB disodorkan di hadapan mata gw. Di dalamnya terdapat kutipan berikut:

Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang:
1.        Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya
2.        Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
3.        Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat
(Muhammad Hatta)

Ungkapan pemikiran Hatta di atas dapat disederhanakan dengan kata-kata bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Insan akademis yang dimaksud di sini adalah insan yang memiliki dua peran. Pertama, peran untuk selalu mengembangkan diri, sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Kedua, peran yang akan muncul dengan sendirinya apabila mengikuti watak ilmu itu sendiri. Watak ilmu adalah selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan selalu mengikuti watak ilmu ini, maka insan akademis mengemban peran untuk selalu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakatnya di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah. Dengan pemaparan ini, maka secara teknis, keseluruhan proses pendidikan di perguruan tinggi ditujukan untuk membantu atau memberi alat pada mahasiswa untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan. Selain itu, pendidikan juga ditujukan untuk membantu mahasiswa menentukan visinya tentang tatanan masyarakat masa depan yang baik menurut kaidah ilmiah.

Siapapun yang memangku predikat MAHA-siswa baru-baru, seperti gw kala itu, akan menelan ludah.
*glek!*
Kata siapa mudah untuk menjadi mahasiswa?
Saat seorang siap dikatakan mahasiswa, artinya orang tersebut siap untuk menerima segala proses pembentukan perguruan tinggi untuk menelurkan insan-insan akademis.

Lalu, gw bertanya dalam hati..
Apakah gw sudah sepenuhnya menjadi manusia yang ingin dihasilkan dari sebuah perguruan tinggi? Kan gw udah selesai jadi mahasiswanya, udah selesai menjalani prosesnya. Berarti harus ada hasilnya. Kan gw udah diberi hal-hal terbaik yang belum tentu banyak orang bisa alami.
Apakah gw sudah menjalankan peran yang seharusnya gw ambil setelah melewati proses di perguruan tinggi? Nama perguruan tinggi gw yang membuat proses itu menjadi HARUS SANGAT BERHASIL karena harapan akan munculnya insan akademis dari nama perguruan tinggi gw ini makin besar.

Idealnya sih seharusnya semua dijalankan berdasarkan keilmuan yang didapat. Tapi, menurut gw, keluar dari jalur keilmuan untuk melakukan suatu hal yang berguna bagi bangsa juga bukan suatu kesalahan. Pendidikan di perguruan tinggi kan tidak melulu berkisar soal keilmuan. Dan soal keilmuan juga tidak melulu soal membuat suatu hal yang besar layaknya proyek ratusan milyar. Intinya cuma satu, menjalankan peran sebagaimana mestinya.

Saturday, October 13, 2012

Tulus

Bercerita itu melegakan. Di dalamnya, akan ada proses merelakan sesuatu yang sebelumnya kita miliki sendiri untuk akhirnya dibagikan kepada orang lain. Dari proses itulah, pikiran kita akan dikosongkan sebagian dan diisi kembali dengan persepsi dan definisi yang didatangkan oleh orang lain.
Saya tahu proses ini tidak mudah. Tidak semudah hanya bercerita tentang gosip teman sebelah yang suka gonta ganti pacar. Pertama, tidak mudah untuk menemukan objek yang menurut hati kita tepat. Kedua, tidak mudah untuk berhenti berpikir tentang ketakutan-ketakutan akan pandangan orang lain terhadap kita. Ketiga, tidak mudah untuk membiarkan orang lain mengetahui titik lemah diri kita. Keempat, tidak mudah merangkai perasaan ke dalam kata-kata. Dan terakhir, tidak mudah untuk menggeser konsep ‘privacy and me’ dalam pandangan manusia.
Kemudian akan jadi ‘tidak sesulit itu’ saat kita sudah mampu memecahkan alasan pertama dari kesulitan bercerita.

Hari ini saya bersama mereka, satu-satunya alasan kenapa saya (akhirnya) mampu bercerita.
Berbagi banyak hal dengan wanita-wanita ini membuat saya yakin untuk selalu menguatkan wanita manapun untuk menghapus dogma bahwa wanita SELALU HANYA berpikir dengan perasaan, tanpa logika.

Saya ingin mencoba membuat mereka berbagi rasa lewat lagu yang kami dengarkan bersama. Menarik sebuah benang merah antara cerita si pencipta lagu, penghayatan dengan emosi si penyanyi, hal-hal yang berputar dalam pikiran kami, serta empati yang terbangun antara satu dengan yang lain. Pengkoneksian yang luar biasa!
Dengan perasaan bercampur aduk antara satu dengan yang lainnya, kami berbaring. Saya memutar CD Tulus. Sebuah album berisikan 10 lagu yang indah, menurut saya. Dan saya rasa mereka pun merasakan getaran yang sama saat mendengar tiap nada mengalun.



Ku ingin bernyanyi, melekat di telingamu
Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita
Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu
Bingkai beragam nada agar semua merdu untukmu

Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu
Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita
Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu
Bingkai beragam nada agar semua merdu untukmu

Celoteh si A
Kata bibirnya : “Enak juga nih kayanya.”
Kata hatinya : “Semesta, aku siap mendengar dan merasa.”

Di satu pesta tak ada yang datang
hanya kau sendirian
Musik menghentak kamu kesepian
dan tak ada yang datang

Di mana temanmu, di mana duniamu
yang selalu sejalan
Tak semua seperti yang kau inginkan
Coba kau ingat aku

Aku jatuh cinta pada kekuranganmu
Aku yang selalu punya waktu untukmu

Aku teman pestamu, ku ingin kau bahagia
Aku teman pestamu, ku ingin menghiburmu
Aku teman pestamu, berdansa.. menari.. kan ku lakukan
Aku cinta padamu, ku bisa kau andalkan

Mungkin terdengar konyol
Semua ku lakukan asal kau bahagia
Dengar kau punya aku
Pesta takkan selalu menyenangkan
Beri ku kesempatan tuk membuktikan

Aku teman pestamu, aku teman pestamu
Aku teman pestamu, aku cinta padamu

Aku teman pestamu, ku ingin kau bahagia
Aku teman pestamu, ku ingin menghiburmu
Aku teman pestamu, berdansa.. menari.. kan ku lakukan
Aku cinta padamu, ku bisa kau andalkan

Celoteh si B
Kata bibirnya : “Yep, I’ll do anything for you.” (hening sejenak) “It was.”
Kata hatinya : “Tidakkah kau mengerti seberapa besar pengorbananku? Atau memang aku yang terlalu bodoh? Segeralah sadar bahwa tak akan orang lain yang akan memujamu lebih dari aku.”

Denganmu senang hati terasa
Bangun dari mimpiku tahu aku tak sendiri
Matahari pun terasa lebih cerah
Dengan kecup manismu ku mulai melangkah

Ku nikmati tiap detikku dengan namamu di hatiku
Ku rasa bahagia dan hati berbunga-bunga
Kau buatku tergila-gila, tunduk hati aku setia
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh

Tapi tak berlangsung lama
Kau tinggalkan aku
Kau pergi berjejak tanya

Ayo ingat kata-katamu
Kau tak akan tinggalkan aku
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku

Ayo ingat kata-katamu
Sayang cinta kamu segalanya
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku

Celoteh si A
Kata bibirnya : *sigh* (tersenyum simpul)
Kata hatinya : “Waktu kita terlalu singkat. Semuanya manis. Seandainya memang kita sepaham, aku ingin mengulangnya lagi. Katamu selalu manis, membuat sisi wanitaku kegirangan. Seandainya memang kita sepaham, hatiku ingin selalu dibuat girang. Kamu memang bukan pangeran berkuda, tapi selalu membuat kenangan yang membekas. Seandainya memang kita sepaham, tidak akan ada yang kusebut kenangan. Aku menyebutnya dengan kita dan masa depan.”

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menunggumu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menunggumu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Celoteh si B
Kata bibirnya : “Ya ampun, ini kenapa sih lagunyaaa?”
Kata hatinya : “Kebanyakan orang tidak suka menunggu. Aku? Aku tidak lagi bisa membedakan antara tidak suka menunggu, suka menunggu, bosan menunggu, terpaksa menunggu, dibuat menunggu, harus menunggu, dan ingin menunggu. Atau sebenarnya mereka benar soal aku-mati-rasa-karena-terlalu-lama-menunggu. Yang aku tahu pasti, kamu satu-satunya alasan atas semua fenomena menunggu ini. Aku memang tidak suka menunggu sebelum bertemu kamu, kemudian menjadi terlihat sangat sabar dan cenderung menikmati waktu-waktu saat menunggu kamu. Sampai pernah aku merasa bosan, tapi aku terpaksa menunggu karena tidak bisa bohong dengan perasaan sendiri. Kadang saat jenuh, pikiran jahatku berbisik bahwa aku sebenarnya sedang dibuat menunggu oleh harapan. Hanya harapan, bukan janji. Akhirnya aku putuskan untuk tetap menunggu, harus! Untuk mengejewantahkan angan-angan yang sudah terlanjur apik terbuat. Saat tahu kenyataan bahwa harapan itu semakin tak nyata. Tapi, bukan suatu kesalahan kan jika aku sebenarnya masih ingin menunggu?”

Aku patung, mereka patung
Cangkir teh hangat namun kaku dan dingin
Meja-meja kayu mengkilap
Wajahmu dibasahi air mata yang dilukis

Tubuh kaku tidak bergerak
Ingin hapus air matamu tapi aku tak bisa
Patung-patung kayu mengkilap
Pikiran mereka kosong memikul peran

Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
tapi kita dalam diorama
Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah
tapi kita dalam diorama

Diorama… Diorama…

Sakit hatimu karena aku
Sakit membekas dalam, jadi bagian sejarah
Tak ada kesempatan untuk berkilah
Untuk selamanya masa itu menguasaimu

Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia
tapi kita dalam diorama
Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah
tapi kita dalam diorama
Diorama

Celoteh si C
Kata bibirnya : “Oh, namanya di..yo..ra..ma…”
Kata hatinya : “Kita kan sedang tidak dalam diorama, tapi kenapa tidak bisa bahagia? Aku pernah punya salah, harusnya kamu bisa ampuni kesalahan itu. Toh kamu juga pernah buat salah. Aku kan manusia, ciptaan yang tak ideal. Kalaupun tidak bisa kamu ampuni, minimal maafkan. Aku kan sudah berulang kali mengucap kata maaf. Bahagia kan tidak harus selalu bersama. Aku bisa kok menerima kenyataan kalau aku cukup merusak bayangan kamu akan arti sebuah hubungan. Yang saya sayangkan kenapa tidak ada kata damai? Bahkan polisi di ibu kota dewasa ini saja sering gunakan ‘ilmu damai’ di jalanan.”

Tuan kesepian, tak punya teman
Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya

Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota
Berkata tapi tak bicara, masing-masingnya
Menganalisa

(Nona berkata)
Tuan, apa yang salah padamu
Mengapa wajahmu ada seribu
Tuan, apa yang salah padamu
Seakan dunia hanya kamu, kamu, kamu, kamu

(Tuan berkata)
Nona, apa yang salah padamu
Apa enaknya tenggelam dalam khayal
Nona, apa yang salah padamu
Kau tahu kau tak punya hati
Kau masih saja menanti

Mereka terlarut dalam ego
Hati tertutup terdengar kataku
Berkata tapi tak berkaca
Semua orang hanya angin lalu

Nona jatuh cinta pada tuan
Tuan menunggu yang lain
Nona tak peduli walau tuan
Tak pernah peduli sekitarnya

Celoteh si C
Kata bibirnya : “Eh, puter sekali lagi dong lagu ini!”
Kata hatinya : “Mungkin pertama kali kita terlalu mengedepankan perasaan. Kemudian datanglah waktu di mana kita sudah terlanjur tenggelam dalam ego. Aku tak lagi peduli dengan bacot ini-itu yang selalu meronta darimu. Kamu kemudian menjadi tak lagi peduli dengan kelakuanku yang merobek pemahamanmu. Dan seharusnya kita sudah dalam tahap sadar. Tapi, masih pentingkah?”

Seolah dia menari di mataku
Melekat di kulitku, di hatiku

Apa yang kini harus ku lakukan
Wajahnya selalu ada di pikiran
Ooo tiba-tiba aku suka

Senyumnya selalu terbayang-bayang
Caranya bicara ooo aku suka
Dia punya semua pesona
Dia punya semua yang ku damba
Sosok yang anggun menarik gerak menawan
Tutur cemerlang hati yang tulus tak bisa aku lewatkan

Sungguh ku cinta dia, sungguh ku sayang dia
Dia sangat menggoda, dia sempurna
Sungguh ku cinta dia, sungguh ku sayang dia
Dia sangat menggoda, dia sempurna

Celoteh si A dan B
Kata bibirnya : “Ini si D banget!”
Kata hatinya : “Selamat berbahagia, kawan. Nikmati semua indahnya rasa ini, tapi tetaplah waspada jangan sampai terlampau larut di dalamnya. Semoga kali ini semua berjalan dengan indah, seperti keindahan yang selalu terpancar di matamu saat ini.”

Celoteh si D
Kata bibirnya : “Hahahaha.. Lebay!”
Kata hatinya : “Terima kasih, kawan. Hidup akan terasa berat tanpa kalian.”

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini kun anti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Bila di depan nanti
banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja

(Si D menoleh melihat aku. Dia tersenyum dan memegang tanganku, erat. Dari sudut tepi bibirnya aku melihatnya tersenyum. Senyum yang sudah aku duga sebelumnya. Kami berbicara lewat perasaan, yang tersalurkan lewat genggaman tangan yang tak terlepas sekalipun kami berjauhan. Aku ingin segala yang terbaik terjadi pada kalian dan diriku sendiri.)

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menemuimu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu, di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Celoteh si B
Kata bibirnya : “Ini lagu yang tadi kan ya? Kayanya gw ga request buat diputer lagi deh.”
Kata hatinya : “Bersabarlah, wahai hati. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Di manapun, dengan siapapun.”

Celoteh kami
Kata bibirnya : “Hahahaha..” (gelak tawa membahana)
Kata hatinya : “Kuatlah dengan segala pilihanmu, kawan. Menunggu bukanlah hal yang salah. Aku pun tahu menunggu bukanlah pilihan mudah. Hanya saja, ingat untuk gunakan rasionalmu untuk mencerna. Apapun itu, putuskan.”

Ku ingin bernyanyi, melekat di telingamu
Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita
Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu
Bingkai beragam nada agar semua merdu untukmu

Celoteh saya
Kata bibirku : “Selesai.”
Kata hatiku : “Terima kasih telah menempatkanku di peran penting ini.”